Mengapa Teladan Orang Tua Lebih Berarti dari Kata-kata?

Mengapa Teladan Orang Tua Lebih Berarti dari Kata-kata?

Pendidikan anak adalah proses yang tak hanya berlangsung di dalam ruang kelas, tetapi dimulai dari rumah, tempat di mana orang tua berperan sebagai pendidik pertama. Dalam konteks ini, orang tua tidak hanya mengajarkan anak tentang pengetahuan atau keterampilan, tetapi juga membentuk karakter dan nilai-nilai hidup mereka. Sayangnya, banyak orang tua yang mengajarkan sesuatu kepada anak-anak mereka melalui kata-kata, namun tidak memberikan contoh yang konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Fenomena ini tentu menimbulkan pertanyaan besar tentang seberapa efektif pendidikan yang diberikan jika ada kesenjangan antara pengajaran verbal dan tindakan yang dilakukan oleh orang tua.

Salah satu contoh yang sering kita temui adalah nasihat orang tua yang mengingatkan anak-anaknya untuk tidak terlalu sering bermain handphone, namun mereka sendiri justru lebih sering terjebak dalam layar ponsel mereka. Ini bukan hanya soal masalah handphone, tetapi juga soal konsistensi dan keselarasan antara apa yang diajarkan dan bagaimana orang tua bertindak. Sebagai contoh, orang tua mengajarkan anak untuk disiplin waktu atau menjaga kebersihan, namun jika mereka sendiri tidak menunjukkan perilaku yang serupa, anak-anak akan kebingungan. Ketidaksesuaian antara pengajaran dan tindakan ini dapat mempengaruhi cara anak-anak melihat dunia dan membuat mereka kurang percaya pada nilai-nilai yang diajarkan orang tua.

Menurut Albert Bandura dalam teori pembelajaran sosialnya, anak-anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Mereka cenderung meniru apa yang dilakukan oleh orang dewasa, terutama orang tua mereka. Ini berarti, meskipun orang tua mengajarkan nilai-nilai tertentu kepada anak-anak mereka melalui perkataan, tetapi jika tindakan mereka tidak mencerminkan nilai-nilai tersebut, maka pendidikan yang diberikan menjadi kurang efektif.

Bandura (1986) berpendapat bahwa observasi dan peniruan terhadap perilaku orang dewasa sangat mempengaruhi perkembangan sosial dan emosional anak. Dengan kata lain, pendidikan verbal yang diberikan oleh orang tua tidak akan efektif jika tidak disertai dengan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, Jean Piaget dan Lev Vygotsky, dua tokoh penting dalam teori psikologi pendidikan, juga memberikan pandangan yang relevan mengenai hal ini. Piaget, dalam teori konstruktivismenya, berpendapat bahwa pembelajaran yang efektif terjadi ketika anak-anak berinteraksi langsung dengan dunia mereka.

Anak-anak membangun pengetahuan mereka melalui pengalaman dan interaksi dengan lingkungan sekitar. Dalam hal ini, tindakan orang tua sebagai model langsung memainkan peran yang sangat penting dalam membentuk pengetahuan dan pemahaman anak-anak. Piaget (2023) mengemukakan bahwa anak-anak berkembang melalui tahap-tahap kognitif, dan mereka menyerap pengetahuan secara aktif dengan cara berinteraksi dengan objek dan orang-orang di sekitar mereka. Sementara itu, Lev Vygotsky lebih menekankan peran interaksi sosial dalam proses pembelajaran. Dalam teori zona perkembangan proksimalnya, Vygotsky mengungkapkan bahwa anak-anak dapat mencapai potensi maksimal mereka ketika mereka menerima bantuan dan bimbingan dari orang dewasa, terutama orang tua. Bimbingan ini tidak hanya berupa arahan verbal, tetapi juga contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari yang memperlihatkan cara-cara berpikir dan bertindak yang diharapkan. Dalam pandangan Vygotsky (McLeod, 2018), peran orang tua adalah sebagai pembimbing yang memberikan dukungan kepada anak agar mereka dapat memahami dan mengatasi tantangan yang dihadapi dalam kehidupan mereka.

Kisah Nabi Zakaria dan Nabi Yahya dalam tradisi Islam memberikan contoh yang sangat baik tentang pentingnya teladan dalam pendidikan. Nabi Zakaria, meskipun seorang nabi yang bijaksana, tidak hanya memberikan ajaran kepada anaknya, Nabi Yahya, dengan kata-kata, tetapi juga dengan contoh hidupnya yang penuh kesabaran dan ketekunan. 

Allah berfirman dalam QS. Maryam [19]:12, “Wahai Yahya, ambillah (pelajarilah) Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Kami menganugerahkan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak.” Ayat ini menunjukkan bahwa pendidikan yang efektif berasal tidak hanya dari pengajaran verbal, tetapi juga dari teladan yang diberikan oleh orang tua sejak dini. Nabi Zakaria tidak hanya mengajarkan Nabi Yahya melalui perkataan, tetapi melalui tindakan dan keteladanan yang ia tunjukkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini mencerminkan betapa pentingnya konsistensi antara pengajaran verbal dan tindakan nyata orang tua dalam mendidik anak.

Namun, dalam praktiknya, banyak orang tua yang masih terjebak dalam ketidaksesuaian antara apa yang mereka ajarkan dan apa yang mereka lakukan. Untuk itu, orang tua perlu menyadari bahwa mereka adalah pendidik pertama bagi anak-anak mereka. Sebagai pendidik utama, orang tua harus memastikan bahwa setiap ajaran yang diberikan melalui kata-kata juga tercermin dalam tindakan mereka sehari-hari. Misalnya, jika orang tua menginginkan anak-anak mereka memiliki rasa tanggung jawab, maka orang tua harus menunjukkan tanggung jawab dalam setiap aspek kehidupan mereka. Hal yang sama berlaku untuk nilai-nilai lain seperti kedisiplinan, kejujuran, atau rasa empati.

Ketidaksesuaian antara pengajaran verbal dan tindakan orang tua dapat menimbulkan kebingungannya anak. Anak-anak cenderung lebih meniru apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Oleh karena itu, jika orang tua menginginkan anak-anak mereka memiliki perilaku yang baik, mereka harus terlebih dahulu menunjukkan perilaku yang baik melalui tindakan mereka. Misalnya, jika orang tua ingin anak-anak mereka belajar untuk tidak terlalu sering bermain handphone, orang tua juga harus memperlihatkan bahwa mereka dapat mengatur waktu dan menggunakan handphone dengan bijaksana.

Keteladanan dalam hal-hal kecil sehari-hari akan memiliki dampak yang besar pada perkembangan karakter anak.

Selain keteladanan, komunikasi yang jelas dan terbuka antara orang tua dan anak juga sangat penting. Anak-anak perlu diberikan pemahaman yang mendalam mengenai alasan di balik aturan-aturan yang diterapkan orang tua. Hal ini akan membantu anak-anak untuk tidak hanya mengikuti perintah, tetapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Ketika anak-anak diberi pemahaman yang baik mengenai mengapa mereka harus melakukan sesuatu, mereka akan lebih mudah menerima dan menginternalisasi aturan tersebut.

Pendidikan anak melalui keteladanan dan komunikasi yang efektif akan membentuk karakter mereka dengan lebih baik. Orang tua yang konsisten antara pengajaran verbal dan tindakan akan memberikan dasar yang kuat bagi anak-anak mereka untuk tumbuh menjadi individu yang bertanggung jawab, jujur, dan peduli terhadap sesama. Hal ini sangat penting, karena anak-anak yang memiliki karakter yang kuat akan lebih mampu menghadapi tantangan hidup dan membuat keputusan yang bijaksana di masa depan.

Sebagai penutup, kita harus menyadari bahwa pendidikan yang paling efektif datang dari teladan yang baik. Seperti yang dicontohkan oleh Nabi Zakaria dan Nabi Yahya, pendidikan tidak hanya terbatas pada pengajaran melalui kata-kata, tetapi juga melalui tindakan nyata yang mencerminkan nilai-nilai yang ingin diajarkan.

Orang tua harus menjadi teladan yang baik bagi anak-anak mereka, tidak hanya melalui perkataan, tetapi juga melalui setiap tindakan mereka. Dengan demikian, kita dapat membantu membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan emosional.

[Artikel ditulis oleh KH. Lukman Hakim, M.A Pengawas Keagamaan Yayasan Nurul Aulia]

 

 SLC RA AN-NUR 2025

SLC RA AN-NUR 2025