Every Child Is Special

Every Child Is Special

Di hamparan garba ilmu nan asri “SD Plus Nurul Aulia” kini saya mengabdi. Sebuah
sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Nurul Aulia, yang kini sebentar lagi genap
memasuki usia 20 tahun. Bukan waktu yang singkat untuk membangun sebuah peradaban.
Dengan banyaknya prestasi yang telah diraih sampai detik ini SD Plus Nurul Aulia bisa
dikatakan sebagai salah satu SD terbaik di Kota Cimahi.
Tepat pada hari senin tanggal 18 Juli 2022, itu merupakan titik tolak saya pertama
kalinya mulai mengajar di SD ini. Bahkan pertama kalinya pula saya mengajar di jenjang
sekolah dasar. Sebuah tantangan yang bukan hal mudah bagi saya pribadi sebagai seorang
lulusan sarjana pendidikan kimia unntuk mengajar di jenjang SD. Dengan berusaha rela, ikhlas,
mencari ridho Alloh, berbekal semangat yang tidak akan pernah berubah yaitu mencerdaskan
anak bangsa mengubah mind set pendidikan sebagai poros peradaban dunia yang bukan hanya
mengedepankan fikriyah tapi juga suluk yang baik.
Kelas 4D yang saya sebut dengan Generasi Empat De (GEDe). Di kelas tersebut saya
mendapatkan amanah dari yayasan untuk membersamai para putra putri cerdas, sholeh, sholehah
kebanggaan ayah bundanya. Membersamai 23 peserta didik yang terdiri atas 10 putri dan 13
putra. Kelas yang special bagi saya. Karakter putri hampir semuanya pendiam, berbanding
terbalik dengan karakter putra yang hampir semuanya aktif atau kinestetik.
Sebut saja Janita Hasya. Dengan karakternya yang pendiam, putri dari Ibu korlas ini
sebenarnya menyimpan banyak potensi khususnya di bidang keagamaan. Keberhasilan yang saya
rasakan adalah saat mengikutsertakannya di lomba dacil perayaan HUT RI dan Muharam
beberapa pekan lalu. Awalnya dia menangis karena tidak ingin di plot pada lomba tersebut dan
ingin bergabung bersama teman lainnya dalam tim estafet sarung. Namun saya berupaya
membujuknya dan meyakinkan bahwa hakikat lomba bukan hanya sekadar menang, namun
bagaimana kita bisa berupaya menunjukkan potensi diri dengan sebaik-baiknya. Singkirkan rasa
malu, karena lomba tersebut tentunya bukan ajang untuk mempermalukan seseorang yang tidak
bisa atau tidak biasa. Setelah dibujuk pula oleh Ibundanya di rumah, akhirnya Asya mengikuti
lomba dacil dan akhirnya meraih juara II di jenjang kelas IV. Sebuah pencapaian yang baik.
Dimana tadinya Asya harus menangis dan menolak, kini menjadi terharu dan percaya diri.
Bahwa menampilkan yang terbaik bukan semata-mata mengejar juara, yakinlah bahwa Alloh
akan memberikan yang terbaik sesuai dengan upaya kita. Dan kini Asya sudah 2 bulan berturut-
turut meraih pin keagamaan untuk kategori mengaji terbaik, bahkan bulan ini dia mendapat 2 pin
keagamaan sekaligus (mengaji dan tahfidz terbaik). Selamat ya… Janita Hasya….
Dari kategori putra, saya mendapati siswa special yang tak kalah hebatnya. Dia adalah
Hafiz Fauzan. Siswa ini terkategori ADHD berdasarkan data dari psikolog SD Plus Nurul Aulia.
Awal pertama bertemu dengannya saya sungguh merasa penasaran, seperti apa sosok sebenarnya
seorang Hafiz ini. Dengan bantuan seorang Helper, Hafiz bisa merasa lebih terarah selama
pembelajaran. Namun setelah beberapa minggu pembelajaran, ternyata Pak Doni (Helper Hafiz)
tidak pernah membersamainya lagi selama di kelas dan memilih menunggu di luar kelas. Sebuah
tantangan tentunya saya harus menghadapi seorang anak ABK di kelas yang heterogen seorang
diri. Namun saya mencoba berusaha menjalani dengan niat awal saya yaitu melayani dengan
sepenuh hati. Alhamdulillah sudah hampir 2 bulan ini Hafiz belajar di kelas bersama saya tanpa
didampingi Helper. Sedikit demi sedikit saya mencoba mencari tahu apa yang terjadi pada diri
Hafiz. Mendapat informasi dari Pak Doni, rekan sejawat dan juga Uwa nya yang selama ini
selalu membersamainya. Memang bukan perkara mudah mendidik Hafiz yang sering
mengeluarkan bahasa-bahasa “kurang baik”. Kalau kata Uwa nya asal dibiarkan saja, nanti
berhenti sendiri. Saya merasa bangga kepada anak-anak kelas 4D yang sudah berupaya
menyayangi dan menerima Hafiz dengan keunikannya. Semoga Hafiz menjadi anak yang sholeh,
kemampuan Hafiz itu di atas rata-rata teman lainnya dalam hal tertentu. Jadi, bagi saya Hafiz
adalah anak special yang saya yakin suatu hari akan menjadi sukses dan menjadi kebanggan
orangtuanya. Semangat ya Hafiz…..

Sebenarnya semua siswa kelas 4D bagi saya adalah anak-anak yang mempunyai
keunikan tersendiri. Dalam mendidik anak-anak ini, saya ingin berupaya menanamkan kepada
mereka bahwa sekolah bukan sekadar menuntut ilmu menjadi pintar. Namun sekolah adalah
wahana yang menyimpan sebuah harapan untuk mendekatkan diri kepada Sang pencipta.
Mendahulukan adab sebelum ilmu. Mereka harus dididik dengan penuh kasih sayang, namun
tetap dengan memperhatikan ketegasan/kedisiplinan. Sehingga kedepannya akan timbul
kedewasaan, menghilangkan sifat manja (karena terlalu mengedepankan kasih sayang tanpa
kedisiplinan) dan sifat pembangkang/merasa tertolak (karena terlalu mengedepankan
kedisiplinan tanpa kasih sayang).
Semua saya rasakan sebagai tahap pembelajaran. Saya masih dalam fase penyesuaian, di
2,5 bulan selama bergabung di SD Plus Nurul Aulia ini. Belum banyak yang bisa saya berikan
kepada Yayasan Nurul Aulia. Karena hakikatnya menjadi seorang guru bagi saya bukan segala
tahu, namun menjadi guru adalah tetap belajar sepanjang hayat. Semoga menjadi seorang guru
bisa menjadi amal jariyah yang akan mengantarkan kita ke Surga nya Alloh.
Terima kasih Yayasan Nurul Aulia yang telah memberikan kesempatan kepada saya
untuk menjadi insan pembelajar di unit SD Plus Nurul Aulia ini. Semoga ke depannya saya bisa
semakin baik, meng-up grade diri menjadi guru profesional yang menjadi bagian dari kemajuan
Yayasan ini. Dan semoga saya selalu dilimpahi keberkahan bersama orang-orang sholeh
sholehah yang ada di naungan Yayasan ini. Selamat Milad ke-20 Yayasan Nurul Aulia….
Barokalloh….